Minggu, 12 Juni 2016

UAS HDP: Nurmayani Dipenjara gara-gara mencubit

UJIAN AKHIR SEMESTER HUKUM DALAM PENDIDIKAN 
ANALISIS STUDI KASUS
UAS  ini dibuat untuk memenuhi tugas Dr. Suryadi dan Dr. Desi Rahmawati, M.Pd. Mata kuliah Hukum Dalam Pendidikan 


 









Disusun oleh :
Nadya Faradilla 
1445150047
MP 2015 A




PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN
  FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2016



Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah hukum dalam pendidikan dengan dosen Dr. Suryadi dan Dr. Desi Rahmawati, M.Pd, saya selaku mahasiswa Manajemen Pendidikan ‘Nadya Faradilla’ akan menganalisis kasus mengenai guru yang dipenjara karena mencubit muridnya.
Akhir-akhir ini banyak sekali permasalahan di dunia pendidikan. Berita ini juga sudah banyak beredar di berbagai media, mulai dari media Koran hingga media elektronik. Kasus ini juga telah mengundang reaksi politisi Partai NasDem, Akbar Fauzi. Beliau prihatin melihat seorang guru harus dihadapkan dengan muridnya di ruang sidang. Karena, dari hal yang bisa dibilang ‘sepele’ nyatanya dapat mengakibatkan hal yang besar. Kasus tersebut merupakan kasus seorang guru Biologi bernama Nurmayani di SMP Negeri 1 Bantaeng yang dipenjarakan karena mencubit anak muridnya pada tanggal 12 Mei lalu. Menurut kronologi, guru tersebut mencubit anak didiknya karena ia bercanda dengan temannya menggunakan air dan air itu terkena Nurmayani. Kabarnya juga Nurmayani tidak hanya mencubit, guru tersebut juga memukul anak didiknya itu hingga luka lebam. Dan anak tersebut mengadu kepada kedua orang tuanya. Kebetulan, anak didiknya adalah anak dari anggota Polres Kabupaten Kepulauan Selayar bernama Irwan Efendi. Orang tua anak ini pun merasa tidak terima karena anaknya mengalami luka-luka, dan orangtua anak ini juga langsung melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwajib atas tuntutan kasus kekerasan. Nurmayani juga telah meminta maaf atas kelakuannya itu kepada anak muridnya.
Dari kronologi kasus tersebut banyak orang-orang yang menganggap bahwa orang tua siswa terlalu berlebihan dalam mengambil tindakan. Dan seharusnya juga kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan namun jika melihat Undang-Undang tentang perlindungan anak. Orang tua dari anak didik nurmayani ini pun tidak salah, karena sebagai orang tua mereka hanya ingin memberikan perlindungan kepada anaknya dari perlakuan nurmayani itu. Kekerasan dalam pendidikan juga tercantung di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Pada Pasal 1 dijelaskan bahwa “Tindak kekerasan adalah perilaku yang dilakukan secara fisik, psikis, seksual, dalam jaringan (daring), atau melalui buku ajar yang mencerminkan tindakan agresif dan penyerangan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan dan mengakibatkan ketakutan, trauma, kerusakan barang, luka/cedera, cacat, dan atau kematian”. Dari kasus tersebut, pencubitan yang dilakukan Nurmayani itu sudah melanggar peraturan tersebut, karena cubitan dan pukulan tersebut meninggalkan luka lebam. Lalu disebutkan juga di pada Pasal  54 UU Perlindungan Anak yang berbunyi : “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.”
Namun tindakan Nurmayani pun tidak salah. Nurmayani hanya menjalankan tugas utamanya sebagai guru yaitu mendidik. Mungkin maksud Nurmayani mencubit anak muridnya itu adalah untuk mendidik, namun orang tua dari anak didik tersebut terlalu cepat mengambil keputusan. Sehingga banyak masyarakat yang menolak perlakuan yang dialami Nurmayani. Hal itu tidak adil untuk Nurmayani karena penyelesaian tidak dilakukan secara musyawarah melainkan langsung ke tindakan hukum. Masyarakat juga mengira hal tersebut merupakan hal yang sepele dan tidak perlu diperpanjang apalagi sampai di bawa ke ranah hukum.
Sebagai Guru, Nurmayani pun mempunyai pembelaan, seperti yang terdapat dalam Pasal 39 Ayat (1), (2), dan (3) UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Perlindungan Guru dan Dosen yang berbunyi :
Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, organisasi profesi dan/ satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.
Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungaan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.
Kasus ini telah melanggar perlindungan guru dan dosen dalam perlakuan diskriminatif dan perlakuan tidak adil. Karena tindakan semena-mena orangtua anak tersebut yang melaporkan Nurmayani dengan jabatan yang dimiliknya sebagai anggota polres, dan kasus ini tidak diselesaikan secara kekeluargaan, malah langsung ke ranah hukum. Kasus ini juga terlalu ‘sepele’ untuk dibawa ka ranah hukum, karena hanya berupa cubitan tidak sampai membuat muridnya itu menyebabkan kematian. Sebagai guru, Nurmayani berhak menerima perlindungan seperti yang tercantum pada pasal 39 ayat (1), (2), dan (3) UU Nomor 14 Tahun 2005.
Menurut kasus yang telah saya uraikan, terdapat 2 kesalahan. Yang pertama dari Nurmayani sendiri selaku guru biologi di SMP Negeri 1 Bantaeng yang telah melanggar hukum tindakan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan dan perlindungan anak. Dan yang kedua dari orang tua muridnya itu sendiri yang terlalu cepat mengambil keputusan untuk membawa masalah ini ke ranah hukum, dan dari anak muridnya itu sendiri yang tidak menghadapi dan tidak menerima atas kesalahan yang diperbuatnya disekolahnya. Jika kasus seperti ini yang dianggap ‘sepele’ saja bisa membuat guru masuk penjara, bagaimana dengan kondisi pendidikan kedepannya yang seharusnya mampu membuat peserta didik itu bisa menghadapi masalahnya sendiri, apalagi masalahnya ini hanya sekedar ‘mencubit’. Jika hal ini terus terjadi bisa dipastikan pendidikan untuk kedepannya akan menghasilkan siswa-siswa yang tidak mandiri, lemah dan tidak mampu bersaing oleh siswa-siswa lainnya dari berbagai negara.



Minggu, 08 Mei 2016

PENULISAN KARANGAN


1.       Pengertian mengarang dan karangan
Mengarang adalah pekerjaan merangkai kata, kalimat dan alinea untuk menjabarkan dan atau mengulas topik dan tema tertentu guna memperoleh hasil akhir berupa karangan. Sedangkan karangan adalah hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topik atau pokok bahasan.
2.       Penggolongan karangan berdasarkan bobot isinya
Karangan Ilmiah, Semiilmiah dan Nonilmiah
Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa. Karangan nonilmiah yaitu karangan yang tidak terikat pada aturan baku. Sedangkan karangan semiilmah berada diantara keduanya.
·         Ciri-ciri karangan ilmiah : sumbernya secara faktual dan pengamatan, sifatnya objrktif, alurnya sistematis dan metodis, bahasanya denotatif, ragam baku, istilah khusus, bentuknya argumentasi dan campuran.
·         Ciri-ciri karangan semiilmiah : sumebrmya secara faktual dan pengamatan, sifatnya objektif dan subjektif, alurnya sistematis, kronologis, kilas balik, bahasanya denotatif dan konotatif (semiformal), bentuknya eksposisi, persuasi, deskripsi, campuran.
·         Ciri-ciri karangan nonilmiah : sumbernya nonfaktual, sifatnya objektif, alurnya bebas, bahasanya denotatif/konotatif, semiformal/informal/istilah umum/daerah, bentuknya narasi, deskripsi, campuran.
3.       Penggolongan karangan berdasarkan cara penyajian dan tujuan penulisannya
·         Karangan deskripsi merupakan bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya.
·         Karangan narasi merupakan karangan untuk memberi inforamsi kepada pembaca agar pengetahuannya bertambah (ekspositoris) dan menyampaikan makna kepada pembaca melalui daya khayal (sugestif).
·         Karangan eksposisi merupakan wacana yang bertujuan untuk memberi tahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu.
·         Karangan argumentasi merupakan karangan untuk meyakinkan pembaca agar menerima atau mengambil suatu dokrin, sikap, dan tingkah laku tertentu.
·         Karangan persuasi adalah karangan yang bertujuan membuat pembaca percaya, yakin dan terbujuk akan hal-hal yang dikomunikasikan yang mungkin berupa fakta, suatu pendirian umum, suatu pendapat/gagasan ataupun perasaan seseorang.
·         Karangan campuran merupakan karangan murni,  nerupakan gabungan eksposisi dangan deskripsi.

TOPIK, TEMA, TESIS, DAN KERANGKA KARANGAN


1   Topik dan Judul
Topik merupakan pokok pembicaraan, pokok pembahasan, pokok permasalahan atau masalah yang dibicarakan. Topik karangan adalah suatu hal yang akan digarap menjadi karangan. Apabila ingin membuat karangan ilmiah maka topik karangan haruslah tentang sesuatu yang nyata, tidak boleh abstrak. Sedangkan judul karangan adalah perincian atau penjabarab dari topik. Judul karangan sedapat-dapatnya singkat dan padat, menarik perhatian, serta menggabarkan garis besar (inti) pembahasan. Dalam satu topik dapat dibuat menjadi beberapa judul, misalnya dengan topik putus sekolah maka kita dapat membuat beberapa judul seperti “Tingginya Angka Putus Sekolah Merupakan Problema Pendidikan” dan Kiat Menekan Tingginya Angka Putus Sekolah”.
Apabila kita ingin memilih topik atau masalah, maka kita hedaklah memilih permasalahan atau sesuatu yang menarik. Penulis juga harus mendalami dari suatu permasalahan tersebut terlebih dahulu. Agar pembicaraan tidak melebar, penulis hendaknya mempersempit atau membatasi agar terfokus sesuai dengan rencana dan maksud dari penulis. Untuk mempersempit pokok pembicaraan ada beberapa cara. Cara pertama dengan memecah pokok pembicaraan menjadi bagian-bagian yang makin kecil yang disebut subtopik. Cara kedua ialah dengan menulis pokok umum dan membuat daftar aspek khusus apa saja dan pokok itu secara berurutan ke bawah. Cara ketiga dengan mengajukan lima pertanyaan mengenai pokok pembicaraan seperti apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana.
2.       Tema dan Tesis
Tema merupakan pokok pemikiran, ide atau gagasan tertentu yang akan dituangkan oleh penulis dalam karangannya. Tema adalah sesuatu yang melatarbelakangi dan mendorong seseorang menuliskan karangannya. Tema terbagi menjadi dua, yang pertama tema awal biasanya dipakai ketika mahasiswa akan menulis karya ilmiah. Tema ini dirumuskan sejak awal untuk diketahui oleh Dosen pembimbing karya tulis. Yang kedua tema akhir, tema akhir dapat diketahui apabila seseorang telah selesai membaca karangan seseorang. Di dalam tema tekandung maksud, tujuan, atau sasaran tertentu yang ingin dicapainya. Maksud dan tujuan disebut dengan tesis. Tesis adalah pernyataan singkat tentang maksudd dan tujuan penulis (pengungkapan maksud). Dalam contoh berikut ini tampak jelas jedudukan tema dalam suaatu kerangka karangan.
Topi                       : Kemacetan Lalu-lintas
Subtopik              : Upaya Mengatasi Kemacetan Lalu-lintas
Judul                     :  1. Macet Lagi, Macet Lagi,.... Pusing!
                                    2. Kemacetan Lalu-lintas Dapat Menyebabkan Stres
Tema                     : upaya mengatasi kemacetan lalu-lintas bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab aparat kepolisian, melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh warga masyarakat pemakai jalan.    Permasalahan lalu lintas tidak mungkin dapat dipecahkan tanpa batuan semua pihak yang terkait. Dalam hal ini yang paling diperlukan adalah kesadaran berlalu-lintas secara baik, teratur, sopan dan bertanggung jawab.
3.       Kerangka (outline) karangan
Kerangka karangan merupakan rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan, fungsinya untukmengatur hubungan antara gagasan-gagasan. Dalam proses penyusunan kerangka ada tahapan yang harus dijalani, yaitu memilih topik dan merumuskan tema, mengumpulkan data/informasi, mengatur strategi penempatan gagasan, dan menulis kerangka karangan itu sendiri.
1.       Bentuk kerangka karangan
Bentuk kerangka karangam ada dua macam (1) kerangka topik, terdiri atas kata, frassa dan klausa yang ditandai dengan kode yang sudah lazim untuk menyatakan hubungan antargagasan. (2) kerangka kalimat, kerangka kalimat dipakai pada proses awal penyusunan outline. Memakai kalimat lengkap.
2.       Pola penyusunan kerangka karangan
Terdapat beberapa pola untuk penyusunan kerangka karangan yaitu, (1) pola alamiah, urutan bab dan subbab dapat dibagi menjadi dua, yaitu sesuai dengan urutan ruang (mendeskripsikan suatu tempat atau ruang) dan urutan waktu (untuk menarasikan atau meneceritakan kronologi peristiwa). (2) pola logis, pola ini memakai pendekatan berdaarkan caraa berpikir manusia, urutan logisnya seperti klimaks-antiklimaks, sebab-akibat, pemecahan masalah, dan umum-khusus.

TOPIK, TEMA, TESIS, DAN KERANGKA KARANGAN


1   Topik dan Judul
Topik merupakan pokok pembicaraan, pokok pembahasan, pokok permasalahan atau masalah yang dibicarakan. Topik karangan adalah suatu hal yang akan digarap menjadi karangan. Apabila ingin membuat karangan ilmiah maka topik karangan haruslah tentang sesuatu yang nyata, tidak boleh abstrak. Sedangkan judul karangan adalah perincian atau penjabarab dari topik. Judul karangan sedapat-dapatnya singkat dan padat, menarik perhatian, serta menggabarkan garis besar (inti) pembahasan. Dalam satu topik dapat dibuat menjadi beberapa judul, misalnya dengan topik putus sekolah maka kita dapat membuat beberapa judul seperti “Tingginya Angka Putus Sekolah Merupakan Problema Pendidikan” dan Kiat Menekan Tingginya Angka Putus Sekolah”.
Apabila kita ingin memilih topik atau masalah, maka kita hedaklah memilih permasalahan atau sesuatu yang menarik. Penulis juga harus mendalami dari suatu permasalahan tersebut terlebih dahulu. Agar pembicaraan tidak melebar, penulis hendaknya mempersempit atau membatasi agar terfokus sesuai dengan rencana dan maksud dari penulis. Untuk mempersempit pokok pembicaraan ada beberapa cara. Cara pertama dengan memecah pokok pembicaraan menjadi bagian-bagian yang makin kecil yang disebut subtopik. Cara kedua ialah dengan menulis pokok umum dan membuat daftar aspek khusus apa saja dan pokok itu secara berurutan ke bawah. Cara ketiga dengan mengajukan lima pertanyaan mengenai pokok pembicaraan seperti apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana.
2.       Tema dan Tesis
Tema merupakan pokok pemikiran, ide atau gagasan tertentu yang akan dituangkan oleh penulis dalam karangannya. Tema adalah sesuatu yang melatarbelakangi dan mendorong seseorang menuliskan karangannya. Tema terbagi menjadi dua, yang pertama tema awal biasanya dipakai ketika mahasiswa akan menulis karya ilmiah. Tema ini dirumuskan sejak awal untuk diketahui oleh Dosen pembimbing karya tulis. Yang kedua tema akhir, tema akhir dapat diketahui apabila seseorang telah selesai membaca karangan seseorang. Di dalam tema tekandung maksud, tujuan, atau sasaran tertentu yang ingin dicapainya. Maksud dan tujuan disebut dengan tesis. Tesis adalah pernyataan singkat tentang maksudd dan tujuan penulis (pengungkapan maksud). Dalam contoh berikut ini tampak jelas jedudukan tema dalam suaatu kerangka karangan.
Topi                       : Kemacetan Lalu-lintas
Subtopik              : Upaya Mengatasi Kemacetan Lalu-lintas
Judul                     :  1. Macet Lagi, Macet Lagi,.... Pusing!
                                    2. Kemacetan Lalu-lintas Dapat Menyebabkan Stres
Tema                     : upaya mengatasi kemacetan lalu-lintas bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab aparat kepolisian, melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh warga masyarakat pemakai jalan.    Permasalahan lalu lintas tidak mungkin dapat dipecahkan tanpa batuan semua pihak yang terkait. Dalam hal ini yang paling diperlukan adalah kesadaran berlalu-lintas secara baik, teratur, sopan dan bertanggung jawab.
3.       Kerangka (outline) karangan
Kerangka karangan merupakan rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan, fungsinya untukmengatur hubungan antara gagasan-gagasan. Dalam proses penyusunan kerangka ada tahapan yang harus dijalani, yaitu memilih topik dan merumuskan tema, mengumpulkan data/informasi, mengatur strategi penempatan gagasan, dan menulis kerangka karangan itu sendiri.
1.       Bentuk kerangka karangan
Bentuk kerangka karangam ada dua macam (1) kerangka topik, terdiri atas kata, frassa dan klausa yang ditandai dengan kode yang sudah lazim untuk menyatakan hubungan antargagasan. (2) kerangka kalimat, kerangka kalimat dipakai pada proses awal penyusunan outline. Memakai kalimat lengkap.
2.       Pola penyusunan kerangka karangan
Terdapat beberapa pola untuk penyusunan kerangka karangan yaitu, (1) pola alamiah, urutan bab dan subbab dapat dibagi menjadi dua, yaitu sesuai dengan urutan ruang (mendeskripsikan suatu tempat atau ruang) dan urutan waktu (untuk menarasikan atau meneceritakan kronologi peristiwa). (2) pola logis, pola ini memakai pendekatan berdaarkan caraa berpikir manusia, urutan logisnya seperti klimaks-antiklimaks, sebab-akibat, pemecahan masalah, dan umum-khusus.

Sabtu, 09 April 2016

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia BAB 4 dan BAB 5

BAB 4
SOAL LATIHAN DIKSI
SOAL A
1. B. Ajang
2. D. basis
3. A. berkhianat
4. B. merek
5. C. larik
6. C. mewakafkan
7. B. libur
8. A. rubric
9. D. jeram
10. D. mengajar
11. C. karena itulah maka
12. C. dimulai
13. D. Kasihan sekali mereka.
14. C. berjumpa
15. B. wajib menandatangani
16. C. di lain waktu
17. C. kepada
18. C. melainkan
19. D. kunjungan Anda
20. B. kegiatan membaca kreatif tidak sekadar menerapkan informasi yang tertuang ke dalam kehidupan sehari-hari
21. A. Para karyawan harus saling membantu dalam pekerjaan
22. D. Yogyakarta merupakan kota budaya di mana saya pernah tinggal
23. D. Hasil pekerjaannya lebih baik daripada pekerjaanmu
24. D. Uang yang mana ia peroleh akan digunakannya untuk membeli buku
25. A. Pengusaha kaya rela membeli tanah dengan harga yang sangat mahal sekali
26. C. Dengan demikian, maka berakhirlah acara ini
27. D. sesuai dengan peraturan yang sah
28. B. baik kakak maupun  adiknya sama-sama juara tenis
29. B. lepas landas
30. B. pusat pelangsingan

SOAL B 
Pada tanggal 14 November 2005 saya mendapat tugas Dinas ke Makasar. Karena Maskapai penerbangan Lion Air memiliki jadwal penerbangan pagi, maka kami memutuskan naik pesawat ini. Meskipun ada rasa takut mengingat beberapa kecelakaan yang terjadi terhadap Lion Air, tapi kami yakin pihak manajemen tentunya tidak membiarkan kepercayaan publik hilang.
Sekitar pukul 05.30 WIB kami lepas landas. Sepanjang perjalanan saya berharap mengalami perjalanan yang menyenangkan. Akan tetapi, keinginan itu tinggal harapan. Mulai dari menginjakan kaki dipintu pesawat sampai saat pembagian makanan ringan dan minuman, tidak saya jumpai senyum ramah diwajah Pramugarinya. Sampai tangan saya ketumpahan sisa the manis pun, tidak ada kata maaf yang saya dengar dari sang Pramugari. Akhirnya dengan setengah berteriak untuk meminta tissue barulah kata maaf tersebut saya dengar. Saya sangat kecewa dengan pelayanan Lion Air. Untuk pihak manajemen yang terus membangun kepercayaan publik, jangan abaikan kenyamanan penumpang, sedangkan untuk para Pramugari cobalah ingat kembali komitmen anda ketika pertama kali menerima pekerjaan ini. Bersikaplah professional. Berikan senyum anda. Saya kira hanya dengan memberikan senyuman anda tidak akan merasa dirugikan apapun.
(disadur dari surat pembaca, Media Indonesia, 29 November 2005)
BAB 5
SOAL LATIHAN KALIMAT 

SOAL A
1. A. tingkat risiko bank-bank yang bergerak dalam retail banking
2. D. sangat baik.
3. B. hasil pertemuan itu harus segera dirumuskan
4. C. bagi semua supir harus memiliki SIM
5. D. persoalan yang sudah berada di tangan polisi
6. A. Gubernur DKI memberi kelonggaran kepada pedagang kaki lima
7. B. Dia ke luar negeri
8. B. S-P-Pel
9. C. S-P-O-Pel
10. B. Nova mendongengkan adiknya
11. D. Mereka menonton drama
12. A. Lahan-lahan yang kurang produktif dijadikan perkebunan mangga
13. B. siapa saja yang terpilih?
14. C. Pembunuhan sadis pernah terjadi pada seorang TKI
15. C. Makalah ini membicarakan kenaikan harga mobil baru
16. C. Meskipun belum mempunyai pengalaman, saya akan berusaha bekerja sebaik-baiknya
17. D. Hasil penelitian telah membuktikan hal itu
18. D. Sidang umum telah berjalan lancer sesuai dengan kehendak rakyat
19. C. Parkir di halaman took swalayan yang ramai itu gratis
20. D. Hambatan yang ditemui ada kurangnya tenaga terampil
21. D. Kehematan
22. C. Kepada pengemudi diminta agar menaati marka jalan
23. C. Masalah-masalah sosial perlu didiskusikan sedini mungkin
24. B. Tanpa kecuali
25. C. kata waktu
26. D. hubungan waktu
27. B. Saya membeli buku itu dan menghadiahkannya untuk teman
28. B. Ibu sudah pergi mengajar ketika kami masih tidur
29. D. Penjumlahan
30 D. Ia mau mengontrakkan rumah yang di sebelah kiri

SOAL B 

1. Himpitan ekonomi memaksa mereka untuk nekat menempuh bahaya.
2. Para duta besar sudah berdatangan hadir pada upacara peringatan 100 tahun Bung Hatta.
3. Kehidupan ini penuh dengan ketidakpastian, kecuali kematian.
4. Darahnya mengandung virus HIV.
5. Kesalahan itu ada di dalam diri kita dan kita sendirilah yang harus memperbaikinya.
6. Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa maka selesailah makalah ini pada waktunya.
7. Larutan itu dapat menghilangkan sariawan, panas dalam, dan bibir pecah-pecah.
8. Hasil pemeriksaan telah membuktikan kasus pengeboman itu dia tidak terlibat sama sekali.
9. Dalam pertemuan wakil gubernur, perundingan perparkiran dilakukan.
10. Kakek dan nenekku telah haji, kakak dan adikku merupakan mahasiswa, sedangkan ayahku direktur perusahaan, dan ibuku direktris perusahaan.

Kalimat

Kalimat
Kalimat merupakan primadona dalam kajian bahasa. Hal ini disebabkan antara lain dengan perantaraan kalimatlah seseorang dapat menyampaikan maksudnya secara lengkap dan jelas. Satuan bentuk bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada tataran kalimat adalah kata (mis. tidak) dan frasa atau kelompok kata (mis. tidak tahu). Kata dan frasa tidak dapat mengungkapkan maksud secara lengkap dan jelas, kecuali jika kata dan frasa itu sedang berperan sebagai kalimat minor misalnya berupa seruan atau jawaban singkat atas sebuah pertanyaan.
Kalimat adalah bagian ujaran atau tulisan yang mempunyai struktur minimal subjel (S) dan predikat (P), dan intonasi finalnya menunjukkan bagian ujaran atau tulisan itu sudah lengkap dengan makna (bernada berita, Tanya, atau perintah). Penetapan struktur minimal S dan P dalam hal ini menunjukkan kalimat bukanlah semata-mata gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai kesatuan bentuk.
Unsur Kalimat
Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa lama disebut jabatan kata dalam kalimat. Istilah itu diganti menjadi fungsi sintaksis kalimat, yakni subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K). kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni S dan P. unsur yang lain (O, Pel, dan Ket) dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir dalam suatu kalimat.
Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang fungsinya memberi tahu tindakan atau perbuatan apa yang dilakukan oleh subjek (S) yaitu sang pelaku / sosok /tokoh sentral dalam kalimat. Predikat juga dapat menyatakan sifat/ciri/keadaan S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang status S dan jumlah sesuatuyang dimiliki oleh S. satuan bentuk pengisi P dapat berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau ajektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal.
Subjek
Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjuk pelaku, tokoh, sosok, sesuatu hal, atau masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Sebagian besar S diisi oleh kata benda atau frasa nominal, klausa, atau frasa verbal.
Objek
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Objek selalu dibelakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajiba hadirnya objek.
Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat melengkapi P. letak Pel umumnya dibelakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata atau frasa yang mengisi Pel dan O juga bisa sama, yaitu nomina dan frasa nominal. Tetapi Pel dan O mempunyai perbedaan. Hal yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh nomina dan frasa nominal, Pel dapat pula diisi oleh ajektiva, frasa ajektival, frasa verbal, dan frasa preposisional.
Keterangan
Yang dimaksud keterangan (Ket) dalam sebuah kalimat adalah bagian kalimat yang menerangkan seluruh kalimat. Dengan pernyataan itu dimaksudkan Ket dalam kalimat tidak hanya menerangkan P, tetapi juga menerangkan S, bahkan sekaligus juga menerangkan O (jika kalimatnya mempunyai O). posisi Ket boleh manasuka:diawal, ditengah, atau diakhir kalimat. Pengisi Ket dapat berupa adverbial, frasa nominal, frasa preposisional, atau klausa.
Pola Kalimat Dasar
Kalimat dasar bukanlah nama jenis kalimat, melainkan acuan atau patron untuk membuat berbagai tipe kalimat. Kalimat dasar terdiri atas beberapa struktur yang dibentuk dengan lima unsur fungsi sintaksis: S, P, O, Pel, Ket.
Kalimat dasar tipe S-P
Dalam kalimat bertipe S-P, predikatnya lazim diisi oleh verba transitif atau frasa verbal. Akan tetapi, ada pula pengisi P berupa nomina, ajektiva, frasa nominal, dan frasa ajektival.
Kalimat dasar tipe S-P-O
Predikat dalam kalimat bertipe S-P-O diisi oleh verba transitif yang memerlukan dua pendamping, yakni S (di sebelah kiri) dan O (di sebelah kanan). Jika salah satu pendamping itu tidak hadir, kalimatnya tidak gramatikal.
Kalimat dasar tipe S-P-Pel
Seperti halnya kalimat bertipe S-P-O, kalimat S-P-Pel mempunyai P yang memerlukan dua pendamping, yakni S (di sebelah kiri) dan Pel (di sebelah kanan).
Kalimat dasar tipe S-P-Ket
Predikat kalimat bertipe S-P-Ket menghendaki dua pendamping yang berupa S (di sebelah kiri) dan Ket (di sebelah kanan)
Kalimat dasar tipe S-P-O-Pel
Predikat kalimat tipe S-P-O-Pel menuntut kehadiran tiga pendamping agar konstruksinya menjadi gramatikal. Pendamping yang dimaksud adalah S (di sebelah kiri), O dan Pel (di sebelah kanan)
Kalimat dasar tipe S-P-O-Ket
Ada tiga pendamping yang diperlukan oleh P dalam kalimat yang bertipe S-P-O-Ket, yakni S (di sebelah kiri), O dan Ket (di sebelah kanan)
Jenis Kalimat
Kalimat dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan (a) jumlah klausa pembentuknya, (b) bentuk/fungsi isinya, (c) kelengkapan unsurnya, dan (d) susunan subjek predikatnya
Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Klausanya
Berdasarkan jumlah klausa pembentuknya, kalimat dapat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) kalimat tunggal, (2) kalimat majemuk.
Kalimat tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu klausa. Karena klausa yang tunggal itulah kalimatnya dinamai kalimat tunggal. Hal itu juga berarti hanya ada ada satu P di dalam kalimat tunggal. Seperti telah dijelaskan dimuka, unsur S dan P adalah penanda klausa yang wajib hadir dalam setiap kalimat.
Kalimat majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dua atau lebih kalimat tunggal. Hal itu berarti dalam kalimat majemuk terdapat lebih dari satu klausa.
Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara mempunyai ciri (1) terbentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal, (2) kedudukan tiap kalimat sederajat. Mengingat kalimat majemuk merupakan gabungan dua kalimat atau lebih, sangatlah tepat dan memang memenuhi syarat jika kalimat-kalimat yang digabung itu disebut dengan istilah klausa.
Kalimat majemuk bertingkat
Bertingkat berbeda dengan kalimat majemuk setara. Perbedaaannya terletak pada derajat klausa pembentukannya yang tidak setara Karena kedua merupakan perluasan dari klausa pertama.
Jenis kalimat berdasarkan fungsinya
Kalimat dapat difungsikan untuk menyampaikan pokok pikiran secara lengkap dan jelas. Berdasarkan kategori sintaksisnya, dalam buku Tata Baku Bahasa Indonesia  (2003:378), para ahli membedakan kalimat atas empat macam, yaitu kalimat berita, kalimat Tanya, kalimat perintah, dan kalimat seru
Kalimat berita (deklaratif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk memberitahukan sesuatu.
Kalimat Tanya (interogatif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya.
Kalimat perintah (imperatif) dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang berbuat sesuatu
Kalimat seru (ekslamatif) dipakai oleh penutur untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi spontan.
Kalimat tidak lengkap (Kalimat minor)
Di dalam bahasa tulis, lebih-lebih dalam bahasa lisan, kadang-kadang kalimat ditampilkan dengan unsur yang tidak lengkap. Hal itu terjadi dalam wacana pembicaraan yang konteksnya sudah diketahui oleh para pelaku. Kalimat yang tidak ber-P atau ber-S disebut kalimat tidak lengkap atau kalimat minor.
Kalimat inversi
Kalimat inversi adalah kalimat yang P-nya mendahului S sehingga terbentuk pola P-S. selain merupakan variasi pola S-P, ternyata kalimat inversi dapat memberi penekanan atau ketegasan makna tertentu. Kata atau frasa yang pertama muncul dalam tuturan bisa menjadi kata kunci yang mempengaruhi makna.
Kalimat efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan maksud penutur atau penulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar atau pembaca secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang mampu menjembatani timbulnya pikiran yang sama antara penulis atau penutur dan pembaca atau pendengar. Kalimat efektif haruis dapat mewakili pikiran penulis secara pas sehingga pendengar memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti maksud oleh penulis.
Untuk dapat mencapai keefektifan tersebut, kalimat efektif harus memenuhi paling tidak enam syarat, yaitu adanya kesatuan, kepaduan, keparalelan, ketepatan, kehematan, dan kelogisan.
Kesatuan, sebuah kalimat dapat dikatakan mempunyai kesatuan jika didalamnya hanya terdapat satu ide pokok.
Kepaduan (koherensi), koherensi akan tercipta jika terjadi hubungan padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat.yang termasuk unsur pembentuk kalimat adalah kata, frasa, klausa, tanda baca, dan fungsi sintaksis.
Keparalelan, kalimat dapat dikatakan mengandung keparalelan atau kesejajaran jika di dalam kalimat terdapat unsur-unsur yang sama derajatnya, sama jenis katanya, sama pola atau susunan kata dan frasanya.
Ketepatan, ketepatan adalah kesesuaian atau kecocokan pemakaian unsur yang membentuk kalimat sehingga tercipta pengertian yang bulat dan pasti. Dalam pembentukan kalimat harus diakui bahwa kata memegang peranan terpenting. Tanpa kata, kalimat tidak aka nada.
Kehematan, kehematan adalah adanya upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu, hemat disini berarti tidak mubazir memakai kata-kata, tidak mengulang subjek, tidak menjamakkan kata yang memang sudah berbentuk jamak.
Kelogisan, kelogisan adalah arti kalimat harus masuk akal atau sesuai dengan jalan pikiran manusa pada umumnya.
Beberapa Kasus Kalimat Tidak Efektif
Dalam kehidupan bermasyarakat kadang-kadang kita mendengar orang-orang disekitar kita berbicara satu sama lain memakai kalimat yang tidak efektif. Kalau pembicaraan itu berlangsung dalam situasi yang tidak formal, tentu kualitas kalimat yang dipakai tidak kita permasalahkan. Akan tetapi, sering terjadi orang menuturkan kalimat yang tidak efektif dalam situasi formal. Hal yang sama juga terjadi dalam pemakaian bahasa tulis. Diberbagai tempat sering terbaca oleh kita bermacam-macam produk komunikasi tulis yang bahasanya –dalam hal ini kalimatnya- tidak efektif. Berikut ini ditampilkan enam kalimat tidak efektif untuk mewakili contoh bahasa lisan dan bahasa tulis dalam pemakaian sehari-hari :
*bagi yang menitip sepeda motor harus dikunci
*bagi dosen yang berhalangan hadir harap diberitahukan ke secretariat
*saya melihat kelakuan anak itu bingung
*Mereka mengantar iring-iringan jenazah ke kuburan
 *bebas parkir
*tempat pendaftaran tinja
Kasus bagi yang Menitip Sepeda Motor
salah satu kesalahan yang tergolong laten dikalangan pemakai awam adalah pemakaian kata depan bagi dalam kalimat yang bersifat informative dan instruktif. Salah satu contohnya adalah kalimat yang banyak terpampang di area penitipan sepeda motor: bagi yang menitip sepeda motor harus dikunci. Kata bagi sering kali salah dipakai karena si pemakai tidak mecermati maknanya. Makna kata bagi sebenarnya setara dengan buat dan untuk.
Kasus Bagi Dosen yang Berhalangan Hadir…
Warga kampus yang membaca kalimat tersebut pasti memahami maksud penulisnya, yaitu meminta dosen yang berhalangan hadir agar memberitahukan hal yang keberhalangannya itu kepada petugas secretariat. Namun, kalimatnya terasa janggal. Kejanggalan itu lagi-lagi disebabkan oleh adanya kata yang mubazir pada awal kalimat, yaitu bagi. Kata bagi sebenarnya wajib tidak hadir disitu.
Kasus Saya Melihat Kelakuan Anak Itu Bingung…
Kalimat tersebut saya melihat kelakuan anak itu bingung terasa ambigu terutama jika dituliskan, sebab yang tersurat dalam kalimat itu bisa dua pihak yang bingung: saya atau anak itu. Jika yang dimaksudkan saya yang bingung, perbaikannya adalah dua varian: saya bingung melihat kelakuan anak itu, bingung saya melihat kelakuan anak itu
Kasus Mereka Mengantar Iring-Iringan Jenazah
Iring-iringan jenazah memang tidak selalu berarti banyak jenazah yang beriringan, tetapi dapat juga satu jenazah dengan banyak pengiring. Namun, akibat adanya kata mengantar, kalimat yang tepat dipakai adalah mereka mengantar pengiring jenazah. Artinya, mereka mengantar orang yang menjadi pengiring jenazah. Kalau yang dimaksudkan memberitahu bahwa mereka mengantar jenazah ke kuburan, bunyi kalimatnya adalah : mereka mengantar jenazah ke kuburan, mereka mengiringi jenazah ke kuburan.
Kasus Bebas Parkir
Untuk mengungkapkan maksud yang sama, dalam bahasa inggris dipakai frasa free parking. Free parking itulah yang diterjemahkan secara salah ke dalam bahasa Indonesia menjadi bebas parkir (memakai pola hokum DM, padahal bahasa Inggris memakai pola MD). Jadi, terjemahannya yang benar untuk frasa free parking adalah parkir gratis, parkir tidak bayar atau parkir bebas.

Jumat, 01 April 2016

Pendekatan Sistem Pada Masa Yang Akan Datang

Pendekatan Sistem Pada Masa Yang Akan Datang

Sistem
Menurut Azrul Azwar, Sistem ialah satu kesatuan yang utuh diperkirakan berhubungan,serta satu sama lain saling mempengaruhi, yang ketemunya dengan sadar dipersiapkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pendekatan Sistem
Pendekatan Sistem adalah upaya untuk melakukan pemecahan masalah yang dilakukan dengan melihat masalah yang ada secara menyeluruh dan melakukan analisis secara sistem.
Penerapan pendekatan sistem :
·          Pendekatan sistem menekankan pada kriteria yang akan meningkatkan kelangsungan organisasi dalam waktu yang lama.
·         Kemampuan organisasi dalam memperoleh sumber-sumber.
·         Memelihara interaksi di dalam dan dengan lingkungan di luar organisasi.
·         Relasi dengan lingkungan yang menjamin secara terus menerus perolehan masukan dan keluaran yang dapat diterima dengan baik.
·         Efisiensi dalam transformasi masukan menjadi keluaran
·         Komunikasi yang transparan.
·         Tingkat konflik antar kelompok.
·         Tingkat kepuasan pegawai.
Pendekatan sistem pada masa yang akan datang adalah kegiatan yang dilakukan untuk melakukan pemecahan masalah secara analisis sistem untuk keberhasilan suatu organisasi di masa yang akan datang.
Meramalkan Masa yang Akan Datang
Pendekatan sistem merupakan cara berfikir yang digunakan dalam pengelolaan pekerjaan. Pendekatan sistem menyiapkan suatu kerangka untuk memvisualisasikan faktor-faktor  lingkungan internal dan eksternal sebagai suatu kesuluruhan yang utuh. Sistem telah didefinisikan sebagai suatu kesuluruhan yang terorganisasi dan bersifat kompleks, yaitu susunan atau kombinasi benda-benda atau bagian-bagian yang membentuk suatu secara keseluruhan,utuh dan bersifat komoleks.
Beckett, (1971) menyatakan bahwa teori sistem tidak pernah berakhir, walaupun disadari pendekatan sistem masih baru akan tetapi teori sistem merupakan suatu instrument dan pendekatan yang berguna secara konseptual dan valid secara intelektual.
Tujuan meramalkan masa yang akan datang adalah dapat memprediksi segala sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang dalam organisasi.
Peninjauan Ulang Terhadap Pendekatan Sistem

Analisis sistem adalah suatu metode atau teknik yang digunakan dalam pemecahan masalah atau pengambilan keputusan, analisis sistem meliputi:
a.    Kesadaran akan adanya suatu masalah
b.    Identifikasi berbagai alternative
c.    Analisis dan sintesis dari berbagai faktor
d.    Penentuan suatu cara pemecahan masalah yang optima; atau sekurang-kurangnya lebih baik
e.    Program kegiatan
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam suatu analisa sistem yang baik adalah :
1. Tentukan input dan output dasar dari sistem.
2. Tentukan proses yang dilakukan di tiap-tiap tahap.
3. Rancang perbaikan sistem dan lakukan pengujian dengan :
a.    Fersibility : cari yang memungkinkan
b.    Viability : kelangsungan
c.    Cost : cari yang harganya murah atau terjangkau
d.    Effectiveness : dengan input yang sedikit, output besar.
4. Buat rencana kerja dan penunjukkan tenaga.
5. Implementasikan dan penilaian terhadap sistem yang baru.
Pendekatan Sistem dalam Hubungan dengan Organisasi
Hubungan adalah suatu perekat yang menghubungkan berbagai objek secara bersamasama. Dalam sistem yang kompleks dimana parameter atau objek merupakan subsistem, hubungan ini adalah perekat yang menghubungkan berbagai sub-sistem tersebut secara bersama. Organisasi adalah sebuah unit sosial yang dikoordinasi secara sadar, terdiri atas dua orang atau lebih, dan berfungsi dalam suatu dasar yang relative terus menerus guna mencapai satu atau serangkaian tujuan yang telat ditetapkan bersama
Peranan Manajer
Manager adalah setiap orang yang mempunyai tanggung jawab atas bawahan dan sumber daya – sumber dayalainnya dalam organisasi. Manajer harus dapat menangani perubahan yang dinamis dan melakukan oodinasi pada sistem secara keseluruhan. Sistem manajemen memerlukan pegawai yang lebih terdidik dan pemasukan sejumlah spesialis yang berorientasi ke arah pencapaian untuk kerja organisasi.
Peran manager lainnya :
1.    Peran antarpersonal
a.    Pemuka simbolis : terkait dengan tugas tugas seremonial yang bersifat simbolis. Contoh : rektor memberikan ijazah sarjana pada acara wisuda.
b.    Pemimpin : mencakup perekrutan, pelatihan, pemberian motivasi, dan pendisiplinan karyawan.
c.    Perantara (penghubung) : berhubungan dengan pihak luar, seperti klien, partner, pemerintah dll.
2.    Peran informasional
a.    Penerus informasi : menyebarkan informasi berupa keputusan baru kepada bawahan.
b.    Perwakilan : manager sebagai wakil organisasi memberikan pidato, ceramah, ikut seminar dll.
3.    Peran pengambilan keputusan
a.    Penyelesai masalah : manajer melakukan tindakan kolektif untuk menyelesaikan masalah.
b.    Pengalokasian sumber daya: bertanggung jawab mengatur sumber daya yang ada.

c.    Negotiator : manajer mendiskusikan berbagai persoalan dan tawar menawar dengan unit lain.